DESA Pudak merupakan salah satu sentra sapi potong di Kabupaten Muaro Jambi. Letak geogafis desa ini cukup menguntungkan karena hanya berjarak ± 5 km dari pusat Kota Jambi dan akses jalan yang cukup memadai. Sebagian berupa jalan cor beton dan sebagian yang berupa tanah pengerasan. Dalam progam pengembangbiakan ternak sapi, Desa Pudak sudah dilayani program Inseminasi Buatan (IB) dari Dinas Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Muaro Jambi. Jumlah ternak betina produkitf yang dapat menjadi akspetor IB ± 500 ekor seluruhnya sudah terjangkau layanan IB.

Pilihan peternak mengawinkan ternaknya dengan teknologi IB memberikan banyak keuntungan. Manfaat IB diantaranya memperbaiki kualitas sapi melalui perbaikan mutu genetik,  dalam hal ini sapi lokal dapat menghasilkan anak sapi unggul  dari bangsa sapi Bos indicus (Onggole, Brahman, dll) dan Bos taurus  (Simmental, Limousine, FH, dll.).  Penerapan IB juga dapat meningkatkan produksi anak secara teratur, efisiensi biaya dan waktu dengan tidak perlu memelihara pejantan dan mencegah perkawinan sedarah pada sapi betina.

Data populasi ternak sapi di Desa Pudak menunjukkan bahwa jumlah  ternak sapi jantan dewasa kurang dari separuh sapi betina dewasa. Hal yang sama terjadi ternak remaja. Data menunjukkan bahwa sebagian remaja jantan dijual peternak sebagai bakalan. Sementara pada pedet jumlah jantan dan betina relatif berimbang sesuai rasio kelahiran alamiah pada ternak sapi.  Peternak lebih banyak memelihara betina dibandingkan jantan disebabkan 2 hal,  yaitu :

1)      Untuk pengembangbiakkan sapi, peternak tidak memerlukan sapi jantan karena sudah terjangkau layanan IB. Preferensi peternak untuk memilih IB dibandingkan kawin alam karena IB sudah diperkenalkan di Desa Pudak sejak tahun 1980-an,  anak hasil IB dirasakan peternak lebih baik secara fisik dan nilai jualnya

2)      Sapi-sapi jantan yang dipelihara peternak sudah dipasarkan terutama menjelang hari raya Idul Adha. Sapi-sapi jantan yang sedang dipeilhara peternak lebih banyak digunakan sebagai tabungan bukan sebagai pemacek.

Kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak tahun 1990-an, pada saat penerapan IB sudah berkembang sejak diperkenalkan sepuluh tahun sebelumnya. Dengan demikian, peternak selalu kekurangan stok sapi jantan setiap menjelang Idul Adha. Para peternak sapi potong  lebih mengharapkan kelahiran anak jantan dibandingkan anak bertina. Anak jantan yang lahir biasanya dibesarkan sendiri sampai umur dewasa kelamin (1,5 – 2 tahun), selanjutnya sapi jantan tersebut dijual terutama menjelang Idul Adha, karena harga ternak jantan lebih tinggi saat itu.

Untuk ternak betina, dipelihara untuk dijadikan indukan, sebagian dijual ke peternak lain atau ke pedagang untuk dipotong (produksi daging). Dengan bobot yang sama, harga sapi jantan lebih tinggi dibandingkan sapi betina. Untuk sapi jantan, peternak dapat menjual lebih cepat pada saat lepas sapih (umur 6 – 9 bulan) karena permintaannya tinggi untuk sapi bakalan dan harga ditawarkan juga cukup besar terutama sapi bakalan jantan hasil IB. Secara umum sapi jantan tumbuh lebih cepat,  karkasnya lebih tinggi daripada sapi betina dan nilai ekonomisnya lebih baik.

Di Desa Pudak penerapan teknologi reproduksi pendukung IB sudah diintroduksikan diantaranya sinkronisasi birahi menggunakan CIDR-B oleh Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Peternakan Universitas Jambi (Dr. Bayu Rosadi, S.Pt., M.Si dkk) pada tahun 2012 dan respon peternakan cukup baik dan adaptif terhadap teknologi ini. 

Selanjutnya, melalui program gertak birahi dari Kementerian Pertanian, juga diterapkan di Desa Pudak pada tahun 2014 dan 2015. Fakta penerimaan teknologi baru oleh peternak mengindikasikan peluang introduksi teknologi lain yang memberi manfaat bagi peternak.

Secara alamiah, rasio anak jantan dan betina baik hasil IB maupun kawin alam berimbang (50 persen jantan, 50 persen betina), sehingga harapan untuk mendapatkan anak jantan lebih banyak tidak mungkin diperoleh tanpa upaya intervensi teknologi reproduksi.

Pada tahun ini, Unja menggelar Program Kemitraan Masyarakat disponsori Kemenristekdikti di Desa Pudak. Program yang digawangi oleh Dr. Bayu Rosadi, S.Pt., M.Si. dan Sigit Indrawijaya, SE, M.Si. ini bertujuan meningkatkan pendapatan peternak melalui optimalisasi produksi anak jantan. Pada kegiatan ini diterapkan teknologi IB dengan menggunakan semen (mani) sapi beku hasil sexing. Penggunaan mani beku hasil sexing memungkinkan peluang kelahiran anak jantan lebih besar.

Hasil penelitian sebelumnya oleh tim peneliti UNJA diperoleh 90 persen kelahiran jantan. Diharapkan hasil kegiatan ini menjadi motivasi bagi peternak dan pemangku kepentingan terkait untuk menerapkan teknologi IB dengan mani beku hasil sexing secara lebih luas.    


Penulis:
Editor: Herri Novealdi



comments