Zaitun, dan Raden Hasyim, serta Ratu Mas Aminah sebagaimana screenshot dokumen yang terpampang dalam film dokumenter Raden Mattaher (Gambar 1). Namun demikian, saya akan mengungkap keturunan Raden Mattaher dari anaknya yang lain, yaitu Raden Soelen (Raden Kusen) yang merupakan adik dari Raden Hamzah.

 1. Screenshot dokumen dari film dokumenter Perjuangan Raden Mattaher yang diproduksi oleh BPNB KEPRI. Isi dokumen tentang keturunan dari anak-anak Raden Mattaher.  

Kenapa penulis berani merespon rangsangan tulisan Ali Surahman? dan kenapa mengungkap keturunan Raden Mattaher dari anaknya yang lain yaitu Raden Soelen? Karena sejatinya penulis secara tidak langsung menjadi bagian dari keluarga trah Raden Soelen. Istri penulis adalah cucu dari Raden Soelen. Oleh karenanya, penulis mengetahui siapa cucu, cicit, dan keturunan berikutnya dari Raden Mattaher melalui garis keturunan Raden Soelen. 

Dari beberapa referensi dan catatan tersurat pada film dokumenter, Raden Mattaher dikaruniai beberapa orang anak dengan versi yang berbeda-beda, baik jumlah maupun urutan dari nomor anak. Mengacu pada tulisan Fachrudin Saudagar (2012) dan Swastiwi dan Arman (2019) anak dari Raden Mattaher adalah sebagai berikut :

Raden Buruk tinggal di Rambatan Temasam

Raden Mataji atau Raden Hamzah tinggal di Jambi 

Raden Soelen atau Raden Kusen tinggal di Bogor

Raden Zainal Abidin

Ratu Mas Lijah

 

Berbagai tulisan menceritakan bahwa anak-anak Raden Mattaher sebagian ada yang diungsikan ke Malaysia atau dititipkan ke kerabatnya, ketika Belanda diketahui akan mengepung tempat kediaman Raden Mattaher dan menangkapnya. Raden Mattaher memilih gugur kesatria melawan Belanda daripada menjadi tawanan, meskipun saat itu masyarakat di sekitar siap mengungsikan sang pejuang ke Malaysia. Selepas Raden Mattaher wafat, anak kedua dan ketiga yaitu Raden Hamzah dan Raden Soelen yang kala itu masih balita (sekitar umur 4 dan 3 tahun) diasuh oleh pejabat Belanda. Setelah beberapa kali berganti pengasuh, akhrnya kedua anak tersebut kemudian sampai ke Batavia mengikuti perpindahan dari pejabat Belanda.  

Berdasarkan riwayat, pada perjalanan hidup selanjutnya Raden Hamzah kembali ke Jambi, sedangkan Raden Soelen menetap di Bogor. Pemuda Raden Soelen kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah seperti Raden Mattaher, bapaknya (Gambar 2). Raden Soelen selanjutnya menikah dengan seorang gadis bernama Rohami yang merupakan gadis campuran jawa-sunda (Gambar 3). Dari pernikahannya, pasangan tersebut dikarunia 8 orang anak yang terdiri dari 5 anak perempuan dan 3 anak laki-laki (Gambar 4). Nama anak-anak tersebut sebagaimana yang tertera dalam Screenshoot dokumen pada film dokumenter Perjuangan Raden Mattaher (lihat Gambar 1) yaitu :

 

1. Ratu Mas Mariam Soelen : Lahir 10 Juli 1931, Wafat 27 Juli 1954 

2. Ratu Mas Martha Soelen: Lahir 18 Oktober 1932

3. Ratu Mas Naomi Soelen: Lahir 7 Oktober 1933, Wafat 1 Juni 2018

4. Ratu Mas Elizabeth Soelen: Lahir 2 Desember 1934

5. Raden Pietje Soelen: Lahir 20 April 1935, Wafat 9 April 2014 

6. Raden Sulaeman Soelen: Lahir, 9 April 1937, Wafat 9 Juli 2017

7. Ratu Mas Rohma Soelen: Lahir 6 Mei 1938  

8. Raden Usman Soelen: Lahir 10 September 1942, Wafat 21 Maret 1996.

2. Raden Soelen (Raden Kusen) saat masih muda, gagah dan berwibawa. 

3. Pasangan Raden Soelen (Raden Kusen) dan Rohami

4. Anak-anak dari pasangan Raden Soelen dan Rohami. Dari kiri ke kanan : Ratu Mas Martha, Ratu Mas Mariam, Raden Pietje, Ratu Mas Rohma (dipangku), Raden Sulaeman, Ratu Mas Naomi, dan Ratu Mas Elizabeth. Raden Usman belum lahir.

 

Karier bekerja Raden Soelen sampai masa pensiun adalah di Bagian Laboratorium dari salah satu lembaga riset yang ada di Kebun Raya Bogor. Bersama dengan sang istri, Raden Soelen bahu membahu membesarkan kedelapan anaknya. Namun takdir menentukan istri Raden Soelen, yaitu Rohami wafat pada 29 Juli 1943, sementara Raden Soelen sendiri wafat pada 29 Maret 1977 pada usia 73 tahun. Makam Raden Soelen berdampingan dengan makam istrinya di tempat pemakaman umum (TPU) Blender, Bogor (Gambar 5 dan 6).  

 

Semasa masih hidup, Raden Hamzah beberapa kali mengunjungi adiknya Raden Soelen di Bogor. Keakraban kedua anak Raden Mattaher ini menjadi sepenggal kisah yang tidak pernah terlupakan oleh anak dan cucu Raden Soelen. Keakraban Raden Hamzah dan Raden Soelen sebagai anak dari seorang pejuang yang merasa senasib sepenanggungan, mulai diasuh oleh Belanda sampai mengarungi bahtera hidup selanjutnya sebagai anak yaitim piatu dengan perjuangan yang tidak mudah. Namun dibalik itu semua, tumbuh rasa persaudaraan dan semangat untuk senantiasa menggelorakan rasa persatuan, persaudaraan, dan dimensi perjuangan agar hidup lebih berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Suatu warisan karakter yang layak untuk terus diimplementasikan oleh keturunan-keturunan beliau.   

  

Kini, dari kedelapan anak Raden Soelen, tinggal tiga orang anak perempuan yang masih hidup dan sudah berusia lanjut. Semuanya tinggal di Bogor (Gambar 7). Namun demikian, dari kedelapan anak Raden Soelen, total saat ini sudah berkembang menjadi kurang lebih 101 orang keturunan dari Raden Soelen. Suatu jumlah yang akan terus berkembang dan menjadi populasi yang besar jika digabungkan dengan keturunan dari anak-anak lain Raden Mattaher. Membentuk suatu komunitas keturunan Raden Mattaher yang dapat berkiprah dan berkolaborasi dalam membangun peradaban kehidupan yang lebih baik, baik di Jambi maupun di daerah-daerah lain di Indonesia. Paling tidak, kobaran semangat yang digelorakan oleh Raden Mattaher menjadi titisan dalam membentuk watak yang baik bagi keturunannya di keluarga dan masyarakat. Jika itu sudah diihtiarkan, segala daya upaya pada akhirnya harus bermula juga pada doa kepada yang maha kuasa. Seperti kata mutiara melayu Jambi "Negeri aman padi menjadi, air jernih ikannyo jinak, rumput mudo kerbaunyo gemuk, turun ke sungai cenetik keno, naik ke darat perangkap berisi'. Artinya, berdoa serta mengharap kebahagiaan dan keselamatan negeri. 

5. Makam Raden Soelen dan Rohami Soelen di Tempat Pemakaman Umum Blender, Bogor. Dua wanita yang ada digambar adalah cucu dari Raden Soelen. 

6. Nisan Raden Soelen 

Penulis sudah tiga kali berkunjung ke Jambi, dan baru pada kesempatan ketiga yaitu pada tanggal 30 Agustus 2019, penulis berkesempatan berziarah ke makam Raden Mattaher di Jambi dan bertemu dengan perawat makam Pak Ramli yang juga meminta penulis mengisi buku tamu/kunjungan (Gambar 7).

Gambar 7 Penulis berdoa di makam Raden Mattaher

Gambar 8. Anak dari Raden Soelen, dari kiri ke kanan : Ratu Mas Martha (kerudung, 87 tahun), Ratu Mas Elizabeth (tengah, 85 tahun), dan Ratu Mas Rohma (81 tahun)

 


Penulis: I. M. Trisawa
Editor: M Ali Surachman
Sumber: I.M. Trisawa, keturunan Rd. Mattaher.


comments