BANGKO – Perayaah Idul Fitri, seperti halnya pada 1442 Hijriah, menjadi hari yang selalu dinantikan bagi seluruh umat Islam, tidak terkecuali bagi warga Desa Tanjung Berugo, Kecamatan Lembah Masurai,Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Selain terkenal dengan kekayaan sumber daya alam dan objek wisatanya, Desa Tanjung Berugo juga memiliki tradisi yang sampai kini masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.   Tradisi itu adalah “Kenduri Sko”. Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Merangin, Ahmad Khausari mendukung kelestarian budaya ‘Kenduri SKO’ Desa Tanjung Berugo. Ia pun memaparkan tradisi ‘Kenduri Sko’ yang terus dilestarikan oleh masyarakat desa Tanjung Berugo dan dilaksanakan pada hari ketiga Idul Fitri.   “Kenduri Sko selalu dilaksanakan setiap Lebaran hari ketiga, seluruh warga desa berkumpul di rumah kepala dusun untuk sama-sama melaksanakan tradisi ini,” ujarnya. Kenduri Sko sebagai suatu penghormatan kepada para pendiri desa yaitu kepada Nenek Rio Jemenang dan Nenek Rio Jago Karti. Pusako yang dimaksud adalah peninggalan kedua pendiri desa Tanjung Berugo berupa dua helai kain yang mereka sebut “Dita”.   Nantinya, pada Kenduri Pusako inilah Dita akan diperlihatkan kepada seluruh masyarakat Desa Tanjung Berugo. Kemudian para nenek mamak Desa Tanjung Berugo akan membacakan “Perago” atau sejarah Pusako ini di hadapan seluruh warga. Tidak hanya itu, pada Kenduri Pusako seluruh warga Desa juga bersama-sama mendoakan kedua pendiri desa ini yaitu Nenek Rio Jemenang dan Nenek Rio Jago Karti juga berdoa untuk kesehatan dan keselamatan seluruh warga Desa. “Warga berdoa bersama untuk almarhum semoga yang maha kuasa memberikan tempat terbaik disisi-Nya. Banyak juga yang membayar nazar saat Kenduri Pusako, misalnya kemarin ada anak yang sakit, lalu kalau sehat akan nazar saat Kenduri Pusako. Dan Itu mereka lakukan saat Kenduri Pusako misalnya dengan kasih ayam buat warga makan bersama-sama saat Kenduri Sko,” katanya. Baca Juga:  Pasien Covid-19 Diimbau Manfaatkan Rumah Isolasi Terpadu Khausari menambahkan, Kenduri Sko tidak bisa disepelekan dan ditinggalkan begitu saja oleh warga desa. Sebagai warisan leluhur pusako ini harus dijaga dengan baik. Saat ini Pusako disimpan dengan baik di rumah Kepala Dusun dan tidak boleh sembarang orang memegangnya. Pusako atau Dita sendiri diprediksi sudah berumur 400 tahun lebih. Berdasarkan informasi dari nenek moyang dahulu kedua pendiri kampung ini berasal dari Tanah Jawa. Kenduri Sko harus terus dilestarikan sebagai wujud penghormatan kepada pendiri dan menjadi momen bagi masyarakat desa untuk berkumpul di hari lebaran, mengingat jasa leluhur, saling mendoakan warga agar sehat dan diberi keselamatan serta untuk mendoakan para pendiri agar selalu mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. (*/)

Penulis: Editor: Ikbal Ferdiyal

TAGS:

comments