JAKARTA - Menyusui menjadi tantangan berat bagi seorang Ibu jika keluarga, lingkungan, dan tempat kerja kurang pemahaman mengenai pentingnya ASI. Tantangan lainnya adalah pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun lalu. Bagaimana ibu menyusui khawatir menyusui bayinya karena berada di lingkungan terpapar Covid-19 atau pernah terinfeksi Covid-19.

Ketua Satgas ASI PP IDAI, dr. Elizabeth Yohmi, Sp.A menjelaskan upaya dukungan yang aman menyusui di masa pandemi Covid-19. Ia menegaskan regulasi perlindungan hak anak untuk mendapat ASI di Indonesia, yaitu Undang-undang No.34 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Ia mengatakan, kasus Covid-19 di Indonesia sejak pertama terdeteksi pada 2 Maret 2020 hingga 12 Agustus 2021 tercatat 3.72 juta. Data IDAI menyebut, 42 persen anak yang meninggal dan 447 anak di bawah 1 tahun dalam 17 bulan terakhir meninggal akibat terpapar Covid-19.

Menurut Elizabeth, Ibu dengan Covid-19 dapat menyusui jika mereka menginginkannya. Caranya, ibu menyusui dengan protokol kesehatan seperti memakai masker saat menyusui dan merawat bayi, mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah memegang bayi, dan membersihkan dan mendisifeksi permukaan dan benda yang sering disentuh ibu dan bayi.

"Ibu dengan Covid-19 harus mendapatkan dukungan untuk menyusui dengan aman. IMD dan menyusui eksklusif membantu tumbuh kembang bayi secara optimal, melakukan IMD dengan kontak kulit dengan kulit saat ibu dan bayi dalam keadaan stabil. Jika ibu tidak kuat menyusui langsung, makan dapat memberikan asi perah dengan protokol kesehatan Covid-10 saat memerah ASI," ujarnya.

Kemudian dikatakan, berdasarkan research letter pada 26 Maret 2020 menyebutkan dari 6 ibu yang terkonfirmasi covid-19, SARS Cov-19 tidak terdeteksi di serum/swab tenggorok bayinya. Selain itu, konsentrasi IgG meningkat pada lima bayi (IgG transmisi pasif melalui plasenta).

Sementara itu, berdasarkan situs medRxiv, 80 persen dari 15 sampel ASI yang diperah pada hari ke 14-30 setelah ibu bebas dari gejala Covid-19 menunjukkan peningkatan kadar IgA anti-SARS Cov-2. Selain itu, ada respon imun SARS Cov-2 slgA dominan yang kuat dalam ASI setelah infeksi pada sebagian besar individu, dan bahwa studi komprehensif terhadap respon ini sangat diperlukan.

Terdapat pula scientific brief pada 23 Juni 2020, dari 46 Ibu terpapar covid-19, didapatkan bayinya positif 13 orang, tapi 36 bayi negatif. Kemudian kita lihat bagaimana dengan ASInya, bagaimana penularan dari ASI, ternyata hanya 3 ASI ibu tersebut terdapat virus dan 43 ASI ibu negatif virus. Dari 3 ASI Ibu yang positif tersebut ditemukan dua bayi negatif Covid-19, yaitu satu bayi ASI langsung dan satu bayi ASI perah.

Sedangkan satu bayi dari ASI positif covid-19 dan hasilnya satu bayi positif tidak ada kejelasan data bagaimana minum dan rute infeksi. Setelah diteliti lebih lanjut dengan realtime PCR, itu merupakan partikel virus jadi bukan virus hidup.

Dengan demikian, kata Elizabeth, tidak cukup data adanya transmisi melalui menyusui ASI. Kepatuhan terhadap pencegahan infeksi sangat penting untuk menghindari penularan dari ibu ke bayi. Berdasarkan bukti-bukti penelitian yang ada, rekomendasi WHO untuk IMD dan tetap menyusui tetap berlaku pada Ibu dengan suspek dan terkonfirmasi Covid-19.

Dinar Saurmauli Lubis, SKM, MPH, Ph.d dari Pusat Inovasi Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana memaparkan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui, diantaranya terdapat kebijakan tertulis tentang pemberian ASI yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua staf fasilitas kesehatan, petugas kesehatan terlatih dalam hal pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menolong menyusui, semua ibu hamil mendapat penjelasan menyusui (sejak masa kehamilan, bayi lahir hingga umur 2 tahun), membantu ibu cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui, tidak memberi makanan atau minuman apapun selama ASI kepada bayi baru lahir, kecuali indikasi medis.

Selain itu, tidak memberikan dot atau empeng untuk bayi yang disusui, dan merujuk ke kelompok pendukung ASI ketika ibu pulang dari rumah sakit/rumah bersalin.

Penyintas Covid-19 yang juga ibu menyusui, dr Ferdila Mariam, Sp.S mengatakan, tetap menyusui bayinya yang berusia sembilan bulan saat ia terpapar covid-19 pada September 2020.

"Sempat was-was dan khawatir ketika tahu terpapar," ujar Dila.

Meski demikian, Dila mengaku tidak terlalu panik karena sebelum kejadian terinfeksi virus Covid-19, ia telah banyak membaca mengenai ibu menyusui yang positif Covid-19 boleh menyusui.

"Jauh-jauh hari saya sudah persiapkan diri dengan mencari informasi seandainya saya terpapar sementara menyusui. Info dari sumber terpercaya dan sosmed WHO menjelaskan ibu covid masih bisa menyusui langsung," tuturnya.

Informasi yang didapat, kata Dila menjelaskan Covid-19 tidak menular ke ASI. Sebaliknya, di dalam ASI ibu terpapar covid mengandung antibodi melawan Covid-19.

"ASI mengandung faktor-faktor imunitas yang meningkatkan tumbuh bayi, bahkan bayi dapat antibodi dari saya. Saya kemudian bicara dengan konselor laktasi, teman dokter anak, untuk menguatkan keputusan saya tepat sesuai anjuran WHO. Alhamdulillah pemberian ASI secara langsung ini didukung oleh suami dan ibu saya," ujarnya.

Dila mengingatkan, pemberian ASI secara langsung dari ibu terpapar covid-19 sesuai dengan sosialisasi WHO dan organisasi menyusui lainnya, yaitu dengan protokol kesehatan yang ketat.

Hal itu disampaikan dalam pekan menyusui sedunia atau "world berastfeeding week" diperingati setiap minggu pertama di bulan Agustus.

Sementara itu Direktur Gizi Masyarakat, Dr Dhian Probhoyekti MA mengatakan, pekan menyusui sedunia tahun 2021 ini mengangkat tema global "protect berastfeeding: a shared responsibility" yang diadaptasi menjadi tema nasional yaitu "Perlindungan menyusui: tanggung jawab bersama" dengan slogan "Tetap beri ASI, anak terlindungi, keluarga sejahtera".

"Tujuan peringatan pekan menyusui sedunia, pertama menyebarluaskan informasi seputar pentingnya melindungi menyusui, karena menyusui merupakan tanggung jawab bersama untuk keningkatkan kesehatan masyarakat. Kedua, melibatkan seluruh lapisan masyarakat, lintas sektor dan organisasi untuk mendukung menyusui agar mendapatkan dampak yang lebih besar. Ketiga, mendorong berbagai kegiatan sebagai dukungan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat," kata Dhian dalam webinar dengan tema 'Menyusui Saat Pandemi: Dukungan untuk Ibu, Perlindungan untuk Keluarga", Kamis (12/8).

Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, drg Kartini Rustandi, M.Kes menyatakan, ASI mengandung zat-zat yang diperlukan, terlebih kolustrum.

"The Lancet Breastfeeding Series, 2016 menyatakan memberi ASI eksklusif dapat menurunkan angka kematian bayi akibat infeksi sebesar 88 persen. ASI mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Sementara untuk Ibu, menyusui menurunkan risiko Ibu dari kanker payudara dan rahim," ujar Kartini.


Penulis: */nta
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments