Oleh: Amri Ikhsan *)

BERAKHLAK merupakan singkatan dari Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Ini adalah Core Value (nilai nilai dasar) bagi ASN dalam bekerja dan Employer branding yang merupakan moto ASN dalam bekerja menggunakan semboyan “Bangga melayani bangsa”.

Peluncuran dilakukan Presiden RI Joko Widodo Selasa (27/07/2021), merupakan nilai dasar yang bertujuan untuk menyeragamkan nilai-nilai dasar ASN yang saat ini masih bervariasi di setiap instansi pemerintahan baik pusat maupun daerah.

Di hari kemerdekaan, kedua branding ini diharapkan memberikan dampak positif pada kinerja ASN. Ini merupakan pengembangan dari  intisari nilai-nilai dasar ASN ke dalam satu kesamaan persepsi yang lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh ASN.

Harus diingat bahwa ASN bukan pejabat yang justru minta dilayani, yang bergaya seperti pejabat zaman kolonial dulu. Itu tidak boleh lagi, bukan zamannya lagi. Setiap ASN harus mempunyai jiwa untuk melayani, untuk membantu masyarakat, (Jokowi)

Bagi ASN, di tengah dunia yang penuh disrupsi, perkembangan teknologi yang begitu pesat, berubahnya pola komunikasi masyarakat, kemauan belajar untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. ASN harus sesegera mungkin beradaptasi untuk menyesuaikan diri dengan kondisi kondisi ini.

Di hari kemerdekaan, ASN diharus memulai dan melanjutkan ijtihad untuk melakukan yang terbaik dan menjadikan kepuasan publik sebagai basis dalam mengabdi. Tentu ini bukan hal yang mudah dilakukan. Tapi, dengan kemauan belajar tinggi, membudayakan kerja professional dan membiasakan berkinerja tinggi seharusnya menjadi trend bagi ASN ‘yang sebenarnya’.

Kepada stakeholher harus berinisiasi untuk mendorong dan memberi insentif untuk terciptanya kinerja efektif dan memunculkan talenta. Harus ada komunikasi dan kejelasan tentang kinerja yang hendak dicapai. Memang  ‘aturan’ sudah dibuat’, diskusi yang konstruktif harus tetap dilakukan untuk memastikan ASN memahami secara komprehensif setiap program pemerintah. Jangan sekali kali beranggapan bahwa seluruh ASN ‘sudah tahu’.

Peluncuran core value ini pastinya diniatkan untuk menyatukan langkah dalam mengabdi dan membuka pintu untuk bekerja secara profesional dan substantif. Dengan tantangan keserbakinian, termasuk pandemi Covid-19 yang mengubah semua lini sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pilihan hanyalah terletak pada upaya memperbaharui kemauan untuk bekerja professional dengan optimal.     

Harus diakui bahwa mewujudkan branding ini tidaklah mudah. Masih ada budaya ABS, atau asal kerja, yang penting hadir menjadi kendala klasik yang harus dikikis. Belum lagi ‘permasalahan politik’ yang biasa mucul disaat pemilu dan pilkada menjadi tantang tersendiri bagi implementasi core value ini.

Secara prakmatik, core value ini bermakna ‘sebuah perintah’ dalam konteks bekerja untuk publik. Berorientasi pelayanan, setiap insan ASN memiliki ‘napas’ mengabdi, membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan yang dimiliki. Akuntabilitas, apa yang dilakukan seorang ASN harus bisa dipertanggung jawabkan, bukan hanya bekerja begitu saja.

Kemudian, kompeten, memiliki keahlian dan kompetensi untuk bekerja. Ini jangan dilihat dari gelar, jabatan, absensi, tapi diukur dari perencanaan, proses dan hasil akhir.  Harmonis, bisa menyesuaikan pekerjaannya dengan kondisi lapangan, tidak terpaku pada ‘teks’ tulisan.

Loyal, berarti setia, paling tidak terhadap cita-cita organisasi, dan lebih-lebih kepada NKRI. Kemudian, adaptif, bisa menyesuaikan diri dari setiap situasi dan kondisi, tidak rigid dan  terakhir adalah kolaboratif, mau bekerja sama, tidak hanya bekerja sama ‘melaporkan’ hasil kerja ke atasan tapi juga ‘melaporkan’ ke masyarakat kecil.

Core value ini diyakini tidak berdampak besar bila ASN tidak ingin keluar dari zona nyaman yang sudah dinikmati selama ini. Pertama, perkuat literasi, banyak membaca, berpikir kritis, banyak bertanya. Lihatlah sebuah aturan secara utuh, aturan ‘terakhir’ wajib dikait kait kan dengan aturan aturan sebelumya. Intinya, tidak boleh membaca ‘teks’ saja, harus dibandingan dengan teks teks yang relevan.

Kedua, berbicaralah. ASN harus banyak ‘berbicara’ membantu masyarakat. Berbicara dalam konteks menjalin silaturrahmi untuk menjaga keharmonisan, supaya lebih kenal dengan kondisi masyarakat. Dengan saling berbicara, akan muncul keterbukaan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, sehingga memudahkan ASN menentukan layanan terbaik untuk masyarakat.

Ketiga, lihat ‘kiri kanan’. Tidak hanya berbicara, ASN dalam memberi layanan harus memperhitungkan efek dari layanan yang diberikan. ASN harus jeli dalam menentukan prioritas layanan yang diberikan. Memang ASN itu bekerja ‘rule-based’ (berdasarkan aturan), tapi juga berdasarkan konteks di lapangan, dia berwewenang menentukan skala prioritas.

Keempat, lihatlah ‘kebawah’. Tidak boleh hanya ‘duduk duduk’, mengambil data dari ‘google form’ tanpa memverifikasi data dengan data lapangan. Turun ke tengah masyarakat adalah salah satu ‘perintah’ dari core value ini. Memang teknologi bisa membantu, tapi keputusan akhir harus blended (dicampur) dengan data data di lapangan.

ASN tidak boleh melihat sesuatu dari ‘atas’ yang semua kelihatan sempurna, kelihatan bekerja, kelihan hadir, kelihatan lengkap berhasil, coba sekali kali mata kita ‘di-zoom-kan’ untuk menyaksikan apa yang terjadi sebenarnya pada masyarakat umum. Apakah ‘penglihatan’ kita memang cocok dengan laporan yang diterima.

Kelima, berkeringatlah. Memberi layanan berarti menyakinkan publik bahwa apa yang dilakukan berefek positif bagi masyarakat. Dan tentu ini mesti dipikirkan, mesti diusahakan, mesti dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Kalau sebuah usaha untuk melayani belum berhasil, maka diikhtiarkan lagi usaha lain agar berhasil, begitu seterusnya.

Jangan enggan menempuh proses. Kita ‘bahagia’ mencari metode yang cepat dan praktis untuk sampai pada tujuan itu, walaupun cara-cara itu seringkali bersifat koruptif, manipulatif. Kita juga suka langsung berbicara penerapan, sebelum kita menguasai suatu ilmu ataupun teknologi yang ada.

Keenam, objektif. Memberi layanan tanpa memperdulikan identitas orang yang dilayani, tanpa peduli apakah teman, keluarga, satu desa satu kampung. Asal layanan itu merupakan tupoksi, maka segera dilakukan, idealnya begitu.

Mendefinisikan kemerdekaan adalah tidak semudah mengatakannya sebagai 'branding atau core value' apalagi bila dikaitkan dengan pelaksanaan praktis ditengah masyarakat. Selamat Ulang Tahun ke 76 Republik Indonesia!


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments