Oleh: Musri Nauli *)

APABILA ingin mengetahui bagaimana hubungan Indonesia dan kelompok Taliban dengan melihat judul yang dipaparkan, maka siap-siaplah kecewa.

Tulisan kali ini sama sekali tidak membicarakan hubungan Indonesia dan kelompok Taliban. Selain misteri yang meliputinya, berbagai informasi yang beredar belum memberikan harapan terhadap kelompok Taliban di Afganistan.

Terlepas dari informasi yang menyatakan Taliban akan membangun hubungan komunikasi internasional, baik membangun hubungan dengan Tiongkok yang santer di pemberitaan ataupun berbagai tokoh Taliban yang sudah membangun komunikasi dengan baik dengan tokoh-tokoh nasional, namun informasi mengenai kelompok Taliban bersileweran kesana kemari.

Amerika dan berbagai negara sekutu mengutuk keras terhadap kelompok Taliban. Terlepas informasi yang sesat tentang Taliban yang terus dikampanyekan di berbagai media internasional, peran strategis Amerika di Afganistan selama 20 tahun terakhir kemudian buyar.

Pemerintah Afganistan yang dibentuk Amerika kemudian hancur berkeping-keping. Kepergian Amerika meninggalkan Afganistan bak kotak pandora. Sekaligus kartu domino yang kemudian hancur tidak tersisa.

Ataupun informasi yang disuplai berbagai kelompok bersenjata yang kemudian masih bermimpi negara khilafah di Indonesia.

Kemenangan Afganistan justru memberikan amunisi untuk melakukan pemberontakan di Indonesia.

Terlepas dari berbagai informasi yang bersileweran di linimassa, peran strategi kelompok Taliban tidak boleh diremehkan.

Berbeda dengan kelompok Taliban yang berhasil mengusir Rusia (dulu Uni Sovyet) dan kemudian dituduh Amerika sebagai kelompok teroris yang melindungi Osama bin Laden, Taliban berhasil bertahan selama 20 tahun dari berbagai gempuran.

Lihatlah. Bagaimana Amerika sudah mengucurkan dana ribuan triliun untuk membangun pemerintahan Afganistan. Sekaligus membangun milter.

Namun dalam hitungan hari, setelah Amerika meninggalkan Afganistan, Taliban kemudian merangsak masuk. Tidak sampai satu bulan, waktu yang diprediksi Amerika, Taliban kemudian berhasil menguasai Ibukota negara Afganistan. Sehingga Presiden Afganistan kemudian meninggalkan Afganistan.

Selain juga dukungan Tiongkok yang sudah menyatakan sikap resmi paska Presiden Afganistan kemudian lari tunggang langgang meninggalkan Kabul.

Tentu saja, cara bertahan Taliban selama waktu yang panjang mengingatkan cara bertahan Iran dari embargo ekonomi dari Amerika.

Namun di Indonesia, cara bertahan dan kemudian bergerliya adalah “kemenangan tersendiri” yang tidak boleh diremehkan.

Di saat Soekarno-Hatta kemudian ditawan Belanda dalam revolusi fisik Indonesia setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Soekarno-Hatta kemudian memutuskan kemudian mengirimkan telegram kepada Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran yang saat itu sedang berada di Bukittinggi. Sjafruddin Prawiranegara kemudian membentuk pemerintahan darurat. Sedangkan Jenderal Soedirman tetap menjadi panglima perang Indonesia.

Sebagai pemegang mandat Presiden, Sjafruddin Prawiranegara berpidato sekaligus memberikan semangat kepada seluruh rakyat Indonesia melalui radio.

Dengan masih aktifnya pemerintahan Indonesia, agresi militer Belanda kemudian dihujat internasional. Belanda dituduh sebagai negara aneksi terhadap pemerintah yang sah.

Di Jambi sendiri, ketika Belanda berhasil menyerbu Istana Kerajaan Jambi tahun 1859, Sultan Thaha Saifuddin sendiri mampu gerilya.

Belanda berhasil menemukan Sultan Thaha Saifuddin kemudian gugur 1904. Bahkan hampir 50 tahun kemudian, Keresiden Jambi kemudian terbentuk tahun 1907.

Keunggulan Amerika dari segi militer ternyata tidak mampu menaklukkan Afganistan. Rasa malu dan muka tertunduk malu kepergiaan Amerika meninggalkan Afganistan sekaligus juga mengingatkan perang Amerika di Vietnam.

Dengan keunggulan Amerika, Vietnam mampu bertahan. Kemampuan bertahan Vietnam kemudian membuat Amerika kemudian pulang.

Tidak salah kemudian Barack Obama mengatakan “Kebesaran Amerika bukan ditentukan oleh ketinggian pencakar langit atau besarnya kekuatan militer dan keberhasilan ekonomi. Kebesaran bangsa ini ditentukan oleh keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sejajar".

Kata-kata yang kemudian ditinggalkan oleh Presiden Amerika setelahnya.

Terlepas dari informasi yang beredar mengenai Afganistan, alangkah bijaksana kemudian kita Menunggu perkembangan dari Afganistan.

Namun yang pasti, kemenangan yang diraih setelah bertahan puluhan tahun harus dibuktikan sebagai bangsa yang beradab.

Seperti Iran yang kemudian salah satu negara yang unggul di bidang kesehatan dan ilmu pengetahuan.

Ataupun perang Vietnam yang berakhir 1975, namun Vietnam kemudian mampu meningkatkan produktivitas beras dengan tingkat kemajuan yang mengagumkan paruh waktu 1980-2000. Bahkan tahun 2001, produktivitas padi melebihi rata-rata Asia dan di atas Indonesia. 


*) Advokat. Tinggal di Jambi


Penulis: Musri Nauli
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments