Oleh: Karlina Veradia *)

BARU-BARU  ini saya membaca berita tentang pembullyan dan pelecehan terhadap seorang pria. Saya fikir ini tidak mungkin terjadi karena kasus ini sangat jarang dan mungkin masih asing di telinga masyarakat awam. Setelah saya telusuri dan saya mengikuti perkembangan kasus kekerasan yang terjadi pada laki-laki tersebut, akhirnya saya paham mengenai kasus pelecehan yang terjadi pada seorang pria.

Memang stigma masyarakat kita memiliki pandangan bahwa pria itu jarang atau bahkan tidak mungkin menjadi korban pelecehan dan pembullyan. Itu terjadi dikarenakan masyarakat tidak menyadari seperti apa bentuk pelecehan yang terjadi pada pria. Sempat kaget baca berita karena kasus ini berbeda dengan kasus pelecehan dan pembullyan lainnya. Biasanya kasus pelecehan dan pembullyan terjadi pada seorang perempuan atau terjadi pada anak-anak saja.

Berita mengenai “Pegawai KPI yang mengalami kasus pelecehan dan pembullyan dikantor” ini telah menjadi perhatian publik beberapa hari ini. Ia mengalami kekerasan selama bertahun-tahun. Mulai dari kekerasan fisik sampai kepada kekerasan mental pun ia alami dari tempat ia kerja. “Bahkan pernah tas saya dilempar keluar ruangan, kursi saya dikeluarkan dan ditulisi ‘bangku ini tidak ada orangnya’. Perudungan itu terjadi selama bertahun-tahun dan lingkungan kerja seolah-olah tidak kaget.” ucap dia. Dikutip dari http://www.cnnindonesia.com/nasional/20210901161441-12-688439/pegawai-kpi-mengaku-dilecehkan-dan-di-bully-rekan-kantor/2.

Bukan hanya itu saja, korban juga mengalami pelecehan seksual pada tahun 2015, yang mana para pelaku memegangi kepala, tangan, kaki hingga menelanjangi. Bahkan, para pelaku juga mencoret-coret kelaminnya menggunakan spidol. Dikutip dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210901191310-12-688535/komnas-ham-siap-tangani-dugaan-pelecehan-seksual-di-kpi.

Kasus ini sudah lama dilaporkan oleh si korban, sejak 11 Agustus 2017. Namun, Komnas menyimpulkan perkara tersebut sebagai kejahatan dan sebuah tindak pidana dan direkomendasikan untuk membuat laporan ke polisi.

Dua tahun berselang, korban melaporkan peristiwa itu ke polisi pada tahun 2019. Namun, laporan itu tak diterima dan korban diarahkan untuk melaporkan kepada atasan saja, supaya dapat diselesaikan secara internal kantor. Akhirnya korban pun memutuskan untuk mengadukan perbuatan para pelaku kepada atasannya dan menceritakan semua pelecehan dan penindasan yang ia alami.

Setelah pelaporan tersebut, bukannya dapat tanggapan dari atasan, melainkan ia mengalami peningkatan pelecehan. Karena sejak laporan itu bocor ke para pelaku dan ia dipindahkan ke ruangan lain untuk menghindari pelaku, dan justru hal ini malah membuat para perundung semakin menjadi-jadi. Ia kerap disebut manusia lemah dan pengadu. Perundung terus terjadi, namun proses hukum tak kunjung berjalan.

Rasa frustasi dan lelah akan apa yang ia alami di tempat kerja, membuat ia sempat berfikir untuk mengundurkan diri saja. Namun, saat ini adalah masa pandemi Covid-19, masa dimana sangat sulit untuk mencari pekerjaan baru. Sementara ia memaksakan dirinya untuk terus bekerja dan mencari nafka. Setelah ia rasa tidak ada lagi jalan keluar, menunggu hukum berjalan sebagaimana mestinya dengan harapan perkara ini dan diproses dan para pelaku mendapatkan sanksi, namun tak kunjung jua.

Akhirnya si korban pun memutuskan untuk membeberkan sejumlah nama-nama pelaku melalui keterangan pers yang dibagikan lewat WhatsApp dan korban juga membuat surat terbuka dengan menyebutkan Presiden RI hingga Kapolri. Sehingga perkara ini menjadi perhatian lembaga terkait, terutama tempatnya bekerja.

Mengenai kasus di atas ada beberapa hal yang sangat perlu kita perhatikan. Yang pertama mengenai proses jalannya hukum. Kita sebagai masyarakat sangat paham akan lambatnya proses hukum di Indonesia ini. Bahkan terkadang, tunggu menjadi perbincangan para netizen/ viral dimedia sosial dulu barulah kasus-kasus yang masuk dapat diproses atau bahkan segera diproses.

Kalau seperti ini, mau sampai kapan hukum Indonesia bisa berdiri tegak? Atau hukum di Indonesia mau disebut sebagai hukum yang lamban? Bergerak cepat hanya ketika para netizen sudah membuka suaranya/ bergerak ketika sudah menjadi berita hot dikalangan masyarakat (viral).

Lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi wadah pengaduan bagi masyarakat, harusnya lebih peka terhadap kasus-kasus yang terjadi atau kasus-kasus yang masuk dari pengaduan masyarakat dibandingkan para netizen di media sosial. Kenapa? supaya lembaga-lembaga tesebut dapat kepercayaan darimasyarakat dan masyarakat juga dapat merasakan fingsi dari lembaga-lembaga yang ada.

Yang saya takutkan, setelah kejadian ini, beberapa orang yang mengalami hal serupa akan mengikuti jejak korban kekerasan tersebut. Daripada melaporkannya kepada pihak terkait seperti Komnas HAM/Polisi, lebih baik bercerita dan menuangkan semuanya ke media sosial. Dengan adanya dukungan para netizen, pasti akan lebih cepat di proses. Dan para lembaga pun pasti akan memprosesnya lebih lanjut karna adanya desakan demi desakan dari netizen di media sosial.

Yang kedua, dari kasus ini dapat kita simpulkan bahwa kasus kekerasan juga tidak hanya terjadi pada perempuan dan anak-anak saja. Pria dewasa pun kerap mengalami pelecehan dan pembullyan. Hanya saja kebanyakan masyarakat tidak menyadarinya. Misalnya ketika anak-anak remaja kumpul, ada yang sengaja pelorotin celana dan ada juga yang bercanda menanyakan status seksual apakah homo atau bukan.

Hal ini juga termasuk kedalam kategori tindakan pelecehan seksusal. Bahkan teman dikantor saya juga pernah mengalami pelecehan ditempat umum, yang mana seorang perempuan memegang area-area yang tidak layak untuk disentuh sebagai lawan jenisnya.

Dokter Haekal mengatakan, sama halnya seperti perempuan, saat menjadi korban pelecehan seksual juga membuat laki-laki merasa malu mengakui pernah dilecehkan sesama lelaki. Karena masyarakat akan berfikir jangan-jangan ada sesuatu pada orang orientasi seksual, bahkan laki-laki yang jadi korban akan mempertanyakan orientasi seksualnya.

Sementara jika perempuan yang jadi pelakunya, hal tersebut juga tidak akan mudah bagi laki-laki, terutama dalam melakukan pengaduan lewat jalur hukum. Konsep budaya maskulinitas pada masyarakat, dimana menempatkan laki-laki sebagai sosok yang punya kendali, justruk memberatkan kaum adam. Karena tindakan itu juga dinilai tidak lazim, meski bukan berarti tidak mungkin.

Intinya, bagaimanapun bentuk pelecehan dan pembullyan, baik kepada seorang laki-laki ataupun perempuan, tetaplah sebuah kejahatan yang tidak bisa dianggap sepele. Karena dampak dari kejahatan ini dapat membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental seseorang.


*) Penulis ada pegawai swasta di salah satu Mall Jakarta


Penulis: Karlina Varadia
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments