KUALATUNGKAL - Dua warga Jalan Harapan, Tungkalilir, Kabupaten Tanjungjabung Barat, ditemukan tewas di dalam tangki minyak Kapal KM Riyan Jaya 5 yang sedang parkir di dermaga. Keduanya diketahui bernama Pahror Razi (60) dan Ali Akbar (35), ayah dan anak.

Informasi yang dihimpun Metro Jambi, kedua korban tewas dengan kondisi tubuh melepuh. Berdasarkan visum oleh dokter RSUD Daud Arief Kualatungkal, Ali Akbar mengalami luka melepuh bagian muka, bahu, punggung dan paha.

Sedangkan Pahror Razi bin Akarti melepuh di bagian lengan kanan, siku dan punggung. “Penyebab kematian dicurigai adalah intoksikasi hidrokarbon,” ujar Kapolres Tanjabbar AKBP Muharman Arta, Minggu (19/9).

Setelah divisum, keduanya diserahkan ke keluarga dan telah dimakamkan pada Minggu, pukul 09.00 WIB.

Muharman menjelaskan, kedua korban ditemukan tidak bernyawa di dalam KM Riyan Jaya 5 yang sedang tambat di Dermaga Gudang Tongwat, Jalan Harapan, Kelurahan Tungkal Harapan pada Sabtu (18/9) sore. Saat itu, kapal baru selesai membongkar muatan BBM.

Informasinya, sore itu Ali Akbar lebih dulu menuju kapal. Melihat anaknya tak kunjung kembali, Pahror Razi menyusul. Dia mendapati Ali Akbar dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam tangki yang biasa digunakan untuk menampung dan mengangkut minyak.

Dia pun segera meminta pertolongan warga yang ada. Karena kondisi hujan dan sepi, Pahror lebih dulu masuk ke dalam tangki untuk mengangkat anaknya. Namun, Pahror tak kunjung membawa Ali keluar.

“Para saksi bersama warga sekitar lalu melihat dan mendapati kedua korban dalam keadaan tidak sadarkan diri,” tutup Kapolres.

KM Riyan Jaya 5 diduga milik pengusaha minyak Kualatungkal yang dikenal dengan nama Purnomo alias Si Pur. Pahror dan Ali biasa bermalam dan menjaga di salah satu bangunan yang terletak tidak jauh dari lokasi tambat kapal.

Seorang sumber menyebutkan, setiap setelah kapal membongkar minyak, Pahror dan Ali biasa membersihkan sisa-sisanya.  Keduanya diduga sering terlihat membawa minyak sisa dari kapal tersebut.

Ketua RT 09 Tungkal Harapan Kaspul Anwar mengatakan, Pahror dan Ali sehari-hari bekerja menjaga gudang. “Kalau soal mereka jual minyak, saya dak tau. Setahu kami dia jaga gudang,” ujarnya.

Diakuinya, gudang tersebut biasanya dipakai untuk menyimpan minyak. Namun, setelah terbakar dipakai untuk menyimpan ayam dan tempat tambat kapal. 

Pengelola kapal yang ditemui usai pemakaman Pahror dan Ali mengatakan bahwa kedua korban bukan karyawan mereka. “Mereka biasa mengambil sisa minyak di dalam tangki,” ujar Yadi, pengelola KM Riyan Jaya 5 milik Purnomo itu.

“Memang sering dia (Ali, red) nguras sisa minyak di dalam tangki. Kemarin kami tegur tapi tidak jera,” katanya. Pernah terpikir mau melarang lebih keras, namun pihaknya menyadari posisi kapal yang juga menumpang sandar di lokasi tersebut.

Yadi mengaku berkunjung ke rumah duka untuk menyampaikan ucapan duka. “Kami juga memberi santunan. Meskipun ini kecelakaan sendiri, tapi, ya kita turut peduli lah,” sebutnya.



Ditanya soal muatan kapal, Yadi menyebutkan bahwa kapalnya berkapasitas sekitar 20 ton. Namun, saat sandar kapal sudah bongkar muatan, tinggal sisa sedikit minyak saja. “Sisa dikit itulah yang diambil korban,” ungkapnya.

Hanya saja, ditanya lebih lanjut, Yudi enggan menyebutkan dimana dan kapan semua minyak dibongkar. Dia menyebut jenis minyak yang diangkut adalah premium. 

Dia menambahkan, KM Riyan Jaya 5 memang sering sandar di lokasi tersebut. “Saat kejadian kemarin itu baru beberapa jam. Aturannya kan kalau mau ngambil itu besoknya karena gasnya kan masih tu,” tandasnya.


Penulis: Eko Siswono
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj



comments