SAROLANGUN - Angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Sarolangun Jambi sejak Januari hingga Agustus tahun 2021, mencapai 16 kasus.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sarolangun mencatat, hingga Agustus 2021 itu, 14 kasus kematian terjadi pada bayi dan 2 kasus kematian dari ibu.

Kepala Dinas Kesehatan Sarolangun Bambang mengatakan, penyebab kematian ibu dan bayi ini dikarenakan kurangnya pengetahuan dari yang bersangkutan.

"Kemudian masih ada masyarakat kita yang tidak melakukan persalinan dengan tenaga kesehatan," ujarnya, Kamis (30/9).

Bambang menganjurkan, kepada masyarakat terutama ibu hamil untuk rutin melakukan pemeriksaan di Puskesmas ataupun fasilitas kesehatan lainnya.

"Kita imbau kepada bapak ibu untuk melakukan proses, paling tidak saat kehamilan mengunjungi fasilitas kesehatan dan konsultasi dengan bidan ataupun tenaga kesehatan," katanya.

Selain itu, untuk ibu hamil dianjurkan minimal empat kali memeriksakan kandungan ke dokter guna mengetahui pertumbuhan janin mereka.

"Banyak faktor kematian ibu anak yang beresiko tinggi, salah satunya pendidikan dan pernikahan usia dini. Namun kembali lagi kepada Yang Kuasa," tambahnya.

Bambang mengungkapkan, berdasarkan angka kematian ibu dan bayi tahun 2020 dan 2021 di Sarolangun masih jauh di bawah angka rata-rata nasional.

Angka kematian ibu di nasional 0,62 persen sedangkan Sarolangun 0,076 persen. Untuk angka kematian bayi di nasional 1,5 persen, sementara di Sarolangun 0,33 persen.

"Alhamdulillah Kabupaten Sarolangun masih bisa menangani itu dan angkanya masih di bawah rata-rata nasional," pungkasnya.


Penulis: Mario Dwi Kurnia
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments