Jambi - Bank Indonesia dalam tugasnya selaku otoritas dan regulator, selalu bergerak di tiga koridor bauran kebijakan yaitu kebijakan moneter, kebijakan makroprudensial
dan kebijakan sistem pembayaran. Namun, bauran kebijakan tersebut juga tidak bisa menjadi the only game in town.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, Suti Masniari Nasution menyebutkan, diperlukan sinergi antara bauran kebijakan tersebut, dengan sektor fiskal dan sektor riil untuk memperkuat ketahanan dan stabilitas ekonomi yang sudah dicapai dengan kerja keras selama ini.

‘’Selain bersinergi dan berkolaborasi, aspek transformasi dan inovasi merupakan hal penting yang harus dilakukan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang bernilai tambah dan lebih berkualitas,’’ ujarnya pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia dengan tema “Bangkit dan Optimis: Sinergi dan Inovasi untuk Pemulihan Ekonomi”, Rabu (24/11/2021).

Di kesempatan ini, Suti Masniari Nasution memaparkan tiga pembahasan: pertama, pertumbuhan ekonomi dan inflasi daerah; kedua, prospek pertumbuhan ekonomi ke depan; dan ketiga, highlight kontribusi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi selama tahun 2021.

Dijelaskannya, setelah sebelumnya hampir seluruh perekonomian dunia mengalami resesi, meredanya kasus Covid-19 memberikan sentimen positif terhadap pemulihan perekonomian global.

‘’Perbaikan kondisi perekonomian global tersebut, tentunya turut mendorong perbaikan ekonomi di Provinsi Jambi yang sebagian besar ditopang oleh komoditas primer,’’ jelasnya.

Setelah sempat terkontraksi sebesar 0,46% (yoy) pada tahun 2020, perekonomian Provinsi Jambi tumbuh terakselerasi di angka 5,39% dan 5,91% (yoy) berturut-turut pada triwulan-2 dan triwulan-3 tahun 2021.

Berdasarkan kelompok pengeluaran di triwulan-3 tahun 2021, pertumbuhan ekonomi didominasi komponen ekspor yang menyumbang 64,42% dari total pengeluaran keseluruhan komponen.

‘’Kinerja ekspor di Provinsi Jambi pada triwulan ini tercatat tumbuh sebesar 34,71% (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya,’’ ujarnya.

Perbaikan kinerja ini didorong harga komoditas global yang tetap terjaga di level optimum dan menjadi insentif bagi pelaku usaha. Selain itu kembali normalnya mobilitas dan aktivitas perdagangan di sejumlah wilayah juga turut menopang peningkatan volume perdagangan baik domestik maupun global.

Pada sisi lapangan usaha, peningkatan kinerja yang terjadi pada hampir keseluruhan sektor akan terus berlanjut dan diperkirakan akan mendorong perekonomian bertumbuh positif pada keseluruhan tahun 2021.

Pertumbuhan ekonomi sebagian besar masih ditopang oleh sektor pertanian, pertambangan, perdagangan dan industri pengolahan sebagai sektor unggulan.

Perbaikan ekonomi global maupun domestik tersebut tidak lepas dari peranan penting vaksinasi Covid-19 sebagai game changer yang dapat meningkatkan level of confidence masyarakat dan pelaku usaha.

‘’Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, tekanan
inflasi Provinsi Jambi pada tahun 2021 diproyeksikan tetap positif dan berada pada kisaran target nasional. Tekanan inflasi didorong menguatnya daya beli seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat di tengah pelonggaran PPKM,’’ katanya.

Di sisi lain, tingginya curah hujan pada periode akhir tahun berpotensi mengakibatkan keterbatasan pasokan komoditas bahan pangan strategis.

Berikutnya, perkembangan harga komoditas global diperkirakan masih melanjutkan tren peningkatan, sehingga berpotensi mendorong inflasi.

Meski demikian, inflasi di Provinsi Jambi diperkirakan tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 3,0%±1% (yoy).

‘’Hal ini tidak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan Bank Indonesia bersama pemerintah daerah beserta lembaga/instansi terkait lainnya melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID),’’ jelasnya.

TPID Provinsi Jambi telah menyusun berbagai program pengendalian harga melalui Kerangka 4K yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. ‘’Kami menyakini bahwa pencapaian inflasi tersebut merupakan buah dari sinergi yang kuat antara pemerintah daerah/lembaga/instansi khususnya melalui forum TPID,’’ katanya.

Terakselerasinya perekonomian di Provinsi Jambi pada tahun 2021 merupakan cerminan bahwa berbagai sektor usaha telah kembali bergeliat dan menunjukkan pemulihan.

Namun demikian, perbaikan tersebut belum sejalan dengan tingkat partisipasi angkatan kerja yang menurun dari 67,79% pada tahun 2020, menjadi 67,17% pada tahun 2021.

Penurunan tersebut antara lain disebabkan pertumbuhan angkatan kerja sebesar 0,44% (yoy) yang belum diiringi dengan perluasan lapangan kerja.

Data menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja di Provinsi Jambi masih didominasi oleh pekerja informal sebesar 61,95% yang meliputi sektor-sektor pertanian, perkebunan, dan UMKM. Hal ini tidak lepas dari tingkat pendidikan masyarakat yang saat ini sebagian besar masih pada level pendidikan dasar dan menengah (SD dan SMP) dengan andil 56,60 (%).

Oleh karena itu, diperlukan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah daerah bersama lembaga/instansi terkait dalam rangka memberikan dukungan untuk pengembangan SDM daerah berupa edukasi yang lebih inklusif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk untuk mendorong edukasi vokasional yang siap mencetak SDM siap kerja.

Reformasi struktural melalui kegiatan hilirisasi dirasakan perlu untuk diakselerasi guna meningkatkan nilai tambah dan secara tidak langsung dapat mendorong perluasan lapangan kerja dan tingkat partisipasi angkatan kerja di Provinsi Jambi.

Namun demikian, reformasi struktural tersebut membutuhkan peran dan dukungan dari pemerintah daerah bersama dengan
lembaga/instansi terkait serta diperlukan kolaborasi dengan pihak swasta, termasuk dukungan pembiayaan dari kelompok perbankan.

Sebagaimana diketahui bersama, UMKM memiliki peran yang penting dalam pemulihan ekonomi, meskipun UMKM merupakan salah satu sektor yang terdampak cukup parah selama pandemi Covid-19.

Bank Indonesia bekerjasama dengan pemerintah daerah dan
lembaga/instansi terkait, secara konsisten mendukung UMKM sebagai kekuatan baru dalam perekonomian yang memiliki produk terkait ketahanan pangan, potensi ekspor/substitusi impor, dan unggulan daerah/pendukung pariwisata, melalui program pendampingan secara end-to-end (mulai hulu ke hilir);

Mendorong transformasi UMKM memasuki era digital melalui perluasan implementasi QRIS (QR Code Indonesian Standard) sebagai kanal pembayaran digital dan on-boarding dengan memanfaatkan platform dan conversational commerce.

Menumbuhkan kreativitas UMKM untuk memberikan nilai tambah dari produk dan menggalakkan kampanye penggunaan produk UMKM, antara lain mendorong sisi permintaan atas produk UMKM melalui penggunaan anggaran pemerintah dan dukungan program kampanye Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) dan Gerakan Nasional Bangga ber-Wisata di-Indonesia (Gernas BWI).

‘’Ke depan, Bank Indonesia tetap optimis memandang prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Jambi tahun 2022. Inflasi di Provinsi Jambi diperkirakan tetap berada di kisaran 3±1% (yoy) guna mendukung pemulihan ekonomi Indonesia searah dengan sasaran inflasi nasional 2022-2024,’’ katanya lagi.

Memperkuat program pengendalian inflasi daerah melalui TPID di level provinsi dan kabupaten/kota selaras dengan road-map pengendalian inflasi nasional 2022-2024 yang berfokus pada akselerasi perbaikan struktural dengan mendorong adopsi digital untuk stabilitas inflasi dan pemulihan ekonomi menuju Indonesia maju.

Berikutnya, Provinsi Jambi tahun 2022 diperkirakan akan melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi di tengah meredanya pandemi secara gradual.

Konsumsi diperkirakan akan kembali meningkat seiring dengan berbagai stimulus yang dilakukan terutama untuk mendorong konsumsi kelas menengah/atas dan perbaikan pendapatan sejalan dengan membaiknya kinerja sektor ekonomi utama. Berbagai leading indicator menunjukkan perbaikan ekonomi yang terus berlanjut seperti kenaikan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan Nilai Tukar Petani (NTP).

Meski demikian, perlu dicermati sejumlah risiko kerentanan yang berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi daerah. Adapun beberapa upaya dalam rangka terus mendorong pertumbuhan perekonomian, antara lain penanganan Covid-19 yang efektif menjadi kunci akselerasi pemulihan ekonomi ke depan.

Untuk itu, pelaksanaan kegiatan vaksinasi, tetap harus diperluas dan menjangkau secara inklusif mengingat masih adanya potensi risiko penyebaran virus varian baru di dunia.

Menjaga proses transisi pemulihan ekonomi dengan mendorong proses pemulihan sektor prioritas yang aman dan produktif, yaitu sektor dengan risiko penularan Covid-19 rendah tetapi memiliki daya dukung pemulihan ekonomi dan potensi ekspor yang tinggi.

Menggali potensi sumber ekonomi baru melalui pengembangan local value-chain tourism yang memiliki multiplier effect besar pada sub-sub sektor di bawahnya.

Mempercepat reformasi struktural melalui hilirisasi sektor ekonomi utama. “The 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26)” di Glasgow-Scotland beberapa waktu lalu menyepakati implementasi green economy and sustainable development sebagai bentuk komitmen bersama ekonomi global ke depan. Provinsi Jambi sebagai salah satu sentra penghasil raw material yang dinilai global belum ramah lingkungan (CPO, batubara).

Meskipun saat ini menikmati benefit atas meningkatnya harga komoditas global, namun pemerintah daerah dan stakeholders terkait harus mulai memikirkan upaya untuk mempercepat hilirisasi atau berisiko tertinggal jika tidak melakukan penyesuaian terhadap permintaan global ke depan. (*)


Penulis:
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments