JAMBI - Koordinator Polhut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Jefriyanto mengatakan bahwa pihaknya sudah menerima laporan konflik harimau dan manusia di Batangasai, Kabupaten Sarolangun.

“Anggota bersama petugas resort BKSDA dan elemen yang kita libatkan dalam perjalanan ke lokasi,” ungkap Jefri, Rabu (15/12).

Menurut jadwal, kata dia, Kamis (16/12) pagi ini petugas akan bergerak dari Sarolangun ke tempat kejadian perkara. “Akan dilihat dari hasil analisis perivikasi. Kalau layak, akan kita pasang perangkap,” ujarnya.

Jefri menyatakan lihaknya sudah menemui keluarga Timarani dan memintai keterangan korban. “Selain memberi tali asih, kita juga meminta keterangan korban, gimana kronologi kejadian tersebut,” katanya.

Sementara itu, Timarani (57), korban terkaman harimau di Dusun Sekeladi, Desa Batuempat, Batangasai, Kabupaten Sarolangun, hingga Rabu (15/12) kemarin masih dirawat di RSUD Chatib Quzwain Sarolangun.

Dia dimangsa sang Datuk saat sedang bekerja bersama warga lainnya. Sebelum kejadian sore itu sekitar pukul 16.30 WIB, Selasa (14/12),  Timarani sedang meracun rumput di kebun yang tidak jauh dari pemukiman.

Mendadak seekor harimau menerkamnya. “Dari belakang nyo nangkap tu. Nerkam melompat nyo,” ujar Timarani saat ditemui di RSUD.

Dia mengatakan, saat itu banyak orang di kebun tempatnya bekerja. Karena itu, saat dia beteriak histeris, warga lainnya langsung memberikan pertolongan.

“Banyaklah orang di situ. Harimau tu dua kali nyo narik aku. Lalu aku mekik, teriak. Sudah tu nyo lari,” tambahnya.

Akibat terkaman binatang buas tersebut, Timarani mengalami luka robek di pipi dan bagian belakang kepala. Hingga Rabu dia masih dirawat dan di bawah pengawasan petugas RSUD.

Menurut cucu korban, Heri, usai kejadian neneknya tidak pingsan. Sebelum dibawa ke RSUD Sarolangun, Timarani sempat dilarikan dengan sepeda motor ke puskesmas terdekat.

“Sempat dibawa ke Sekaladi dulu, dirawat dan dikasih obat. Kemudian dibawa ke rumah sakit, sampai di RSUD Sarolangun sekitar pukul 03.00 WIB subuh,” jelasnya.

Menurut Heri, warga memang sering menemukan jejak harimau di kebun-kebun dalam desa mereka. Namun, belum sekali pun sang Datuk menyerang manusia.

“Baru kali ini kejadian. Sebelum itu ada orang nampak jejak kaki harimau di kebun. Ada injakan dan ada juga yang pernah bertemu,” ungkapnya.

Heri berharap pemerintah dan aparat penegak hukum segera melakukan upaya pengamanan terhadap hewan liar tersebut. “Harapan kami, ya, diusahakan ditangkap atau gimana. Jangan berkeliaran lagi di situ,” katanya.

Kapolsek Batangasai AKP Pujiarso mengimbau warga berhati-hati dan tetap waspada. “Kita berkordinasi dengan para pihak, untuk gimana ini bisa ditangani dengan baik,” pungkasnya.


Penulis: nov/rio
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj


TAGS:


comments