Oleh: Drs. H. Tamar TareweNABI pernah ditanya, "Ya Rasulullah, amalan yang paling mulia itu apa ya Rasulullah?", Nabi menjawab, "Engkau mati dalam keadaan lisan mu basah oleh dzikir kepada Allah SWT". Engkau wafat dalam keadaan lisanmu basah dalam berdzikir kepada Allah SWT adalah amalan yang paling mulia. Orang jika sudah membiasakan dirinya berdzikir kepada Allah SWT, maka matinya Insya Allah dalam keadaan berdzikir kepada Allah SWT, karena sudah Mudawamah. Orang yang berdzikir ini awalnya butuh mujahadah. Nafsu kalau sudah diajak mujahadah untuk melakukan sesuatu, nanti kalau sudah terbiasa akan istiqomah dengan sendirinya. Pertamanya saja yang butuh perjuangan. Ada orang yang susah untuk bangun subuh, tapi dia kepengin untuk tidak meninggalkan Sholat Subuh.

Hal pertama yang perlu dia lakukan adalah mujahadah, melawan nafsunya, melawan kemalasaannya. Nanti kalau sudah beberapa kali, dengan dilawannya nafsu, akan muncul istiqamah dengan sendirinya, tidak seperti saat pertama kali harus dengan perlawanan kepada nafsu. Itulah nafsu manusia, yang kita butuhkan adalah melawannya. Jika sudah istiqomah, bahkan akan timbul perasaan bahwa jika tidak mengerjakan itu menjadi tidak enak atau merasa ada yang kurang. Kita harus membiasakan untuk berdzikir kepada Allah SWT karena dzikir ini amalan yang gampang dilakukan. Amalan yang mudah, dimana dzikir memiliki tingkatan yaitu yang pertama adalah dzikir dengan lisan, lalu masuk kederajat tingkatan selanjutnya yaitu apa yang kita ucapkan hendaknya kita hayati.  Jika sudah mencapai level ini, bisa ditingkatkan lagi kederajat yang lebih tinggi yaitu dzikir bilqalbu atau dzikir dengan hati, jadi bukan hanya dengan lisan saja, tapi dia juga menyertakan hatinya untuk berdzikir dan ingat kepada Allah SWT. Dzikir dapat dilakukan kapanpun, saat kita diam, daripada hanya diam dan tak bermanfaaat, gunakanlah untuk berdzikir. Akan tidur, sambil menuju kealam tidur, kita berdzikir. Jadi dapat dilakukan kapanpun. Sehingga segala perbuatan kita itu tidak dicatat oleh Allah melalui malaikatnya sebagai perbuatan yang sia sia tetapi akan dicatat dalam keadaan berdzikir kepada Allah SWT. Dzikir juga dapat dilakukan disaat kita melakun sesuatu misalnya membersihkan halaman rumah dari daun daun, dalam keadaan naik kendaraan atau yang lain. Saat seseorang yang melihatnya ditanya, Si Fulan itu ketika pagi hari jam 05:00-06:00 WIB apa yang dia lakukan? Oh... yang dia lakukan adalah menyapu dan membersihkan daun di halaman rumahnya, itu dalam pandangan manusia, tapi dalam pandangan Allah SWT apa yang dia lakukan pada jam 05:00-06:00 WIB pagi: Dzikrullah. Berdzikir kepada Allah SWT. Menyapu dan membersihkan daun di halamannya tidak hilang, dan dia dapat pahala, dan dia di kategorikan sebagai orang yang berdzikir kepada Allah SWT. Itulah nikmatnya berdzikir. Dalam 24 Jam kita sebetulnya dapat selalu beribadah kepada Allah SWT asalkan kita mau. Tidur dalam keadaan wudhu, dan mengikuti sunah Nabi itu juga dikategorikan ibadah. Dan akan dicatat sebagai amal kita.

Penulis: Drs. H. Tamar TareweEditor: Ikbal Ferdiyal

TAGS:

comments