MUARATEBO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Tebo mendata masih banyak anak di daeraj tersebut yang putus sekolah.

Faktor ekonomi keluarga dan letak geografis di Kabupaten Tebo yang lumayan luas, serta ada yang bertempat tinggal di wilayah terisolir menjadi alasan ratusan anak tersebut putus sekolah.

Kadis Dikbud Tebo Sindi mengatakan, jumlah pelajar yang putus sekolah pada akhir tahun 2021 lalu, terdata sebanyak 664 orang.

Rinciannya, dari Sekolah Dasar (SD) ada 237 pelajar, Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 202 pelajar, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) 98 pelajar, lalu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ada 127 pelajar.

"Ada beberapa faktor mereka putus sekolah, diantaranya karena permasalahan ekonomi dan letak geografis yang luas," ungkap Sindi, Kamis (24/2).

Dikbud Tebo sendiri, kata Sindi, mempunyai solusi bagi pelajar putus sekolah. Seperti menyediakan lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang sudah masuk dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

"Tamatannya sama, tetap diakui negara. Seperti paket A untuk SD, paket B untuk SMP dan paket C untuk SMA," sebutnya.

Menurutnya, proses belajarnya sama seperti kegiatan belajar pada umumnya diantaranya ada peserta didik, tenaga pendidik dan juga ruangan untuk belajar.

"Yang membedakan hanya pertemuannya saja, yakni tiga kali selama satu minggu," ucapnya.

Sindi menjelaskan, khusus siswa yang belajar melalui PKBM pada usia 21 tahun ke bawah, belajarnya dibiayai negara, sedangkan yang di atas itu mereka bayar secara mandiri.

Saat ini jumlah PKBM yang terdaftar di Tebo ada tujuh yang sudah terakreditasi, dengan tutor atau tenaga pendidik mencapai 70 orang.

"Biasanya untuk tutor ada yang dari guru PNS dan honor, ada juga relawan yang menjadi pemerhati pendidikan," katanya.


Penulis: Suci Ramadhan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments