Oleh: Ratna Dewi[1]

UNSUR pencemar utama yang menurunkan kualitas air Batanghari bukanlah merkuri (Hg) atau limbah logam berat lainnya yang disumbang oleh PETI. Jangan kaget, tapi adalah limbah rumah tangga. Silahkan di cek datanya ke Dinas LH terkait[2] atau lakukan uji sampel di beberapa titik.

Berbagai penelitian menjabarkan kandungan COD, BOD, TSS, suhu, kekeruhan dan bakteri yang telah berada di atas batas aman baku mutu air, sebagai unsur utama pencemar Batanghari. Yang mengindikasikan sumbernya, yaitu limbah domestik. Ini juga menjelaskan mengapa tingkat cemaran tertinggi berada di wilayah tengah (Kota Jambi) yang padat penduduk.

Di posisi berikutnya ditempatilimbah industri yang IPALnya tidak sempurna (atau bahkan tidak memiliki IPAL sama sekali) seperti limbah pabrik CPO, karet, industi makanan, tekstil dan juga stockpile batubara terutama yang berada di bantaran sungai.Diikuti residu pupuk serta pertisida akibat praktek pertanian dan perkebunan yang tidak alami. Residu ini (Cd dan Cu) terbawa oleh air hujan dan masuk ke Batanghari untuk selanjutnya menjadi sedimen dan sisanya terbawa hingga ke arus lepas di Selat Malaka.

PETI memang berbahaya apalagi jika massif. Ia merusak morfologi sungai dan membahayakan ekosistemnya. Namun untuk sungai sepanjang dan selebar Batanghari, ia adalah minor intruder. Ia dijumpai terakumulasi di wilayah hulu (ringan)[3] dan tengah (sedang)[4].Selain itu sifat merkuri dan limbah logam berat adalah larut dan mengendap. Menjadi tumpukan sedimen di dasar Batanghari, sehingga jika kita mengambil sampel air permukaan iabisa jadi tidak terdeteksi kecuali pada saat ia baru saja dialirkan. Maka salah satu metode terbaik mengetahui unsur pencemar Batanghari secara komprehensif bukan hanya mempergunakan sampel air permukaan tapi juga air dalam dan sedimen.

Kontributor lain adalah tambang batu dan pasir, yang walaupun tidak menggunakan unsur kimia dalam operasionalnya, namun menyumbang kerusakan yang tak kalah hebat terhadap morfologi sungai. Kekeruhan hebat akanmenghalangi proses fotosintesis plankton yang merupakan makanan ikan dan organisme sungai lain. Lumpur sisa penambangan juga akan masuk ke insang ikan dan dalam skala yang padat bisa membuat ikan mabuk lalu mati (air gapuak).

Menyelamatkan Batanghari tidak bisa parsial, dengan hanya melihat yang tampak dan seolah sangat mengancam yaitu PETI. Puluhan tahun isu ini tetap tak bergeming. Jelas ia juga tidak bisa kita biarkan, tapi kita perlu memperlebar lensa pandang dalam kasus Batanghari. Memberantas PETI penting, tapi energi juga harus dibagi. Solusi lain selalu ada.

Mari kita lihat status mutu air sungai Batanghari yang diterbitkan Ditjen Pengendalian Pencemaran Air KLHK tahun 2020.



Tabel ini menjawab mengapa Batanghari tidak pernah dimasukkan dalam 15 DAS top prioritas yang harus dipulihkan oleh KLHK. Karena memang kualitas airnya masih relatif lebih baik dari sungai prioritas lain seperti Citarum, Ciliwung, Brantas dan sungai lainnya di Jawa dan NTB. Batanghari hanya masuk dalam 108 DAS Prioritas sejak tahun 2009 oleh SK.328/Menhut-II/2009.

Namun juga lewat tabel diatas, laju ketercemaran Batanghari meningkat signifikan hanya dalam rentang satu tahun saja, dari 83 persen berstatus baik di 2018, menyisakan hanya 13 persen di tahun 2019. Sisanya meningkat menjadi tercemar ringan dan tercemar sedang. Kita tentu harus waspada. Menengok ke hulu, yang berada di kabupaten Dharmasraya dan Solok Selatan, di tahun 2019 seluruh airnya berstatus tercemar ringan dan sedang. Tidak menyisakan yang berstatus baik. Di hulu ini diduga kontribusi utamanya limbah pertanian sayur yang masif di Alahan Panjang yang setiap hari memasuki Danau Kembar, hulu Batanghari. Ditambahlimbah logam berat dari pertambangan emas di kabupaten itu dan Dharmasraya.

Namun penelitian BP3U Pelembang KKP tahun 2015, menunjukkan bahwa kualitas air Batanghari di hilir (Tanjung Jabung Timur) tidak mengandung merkuri (sangat rendah). Ini dikarenakan sifat limbah logam berat yang sudah saya jelaskan di atas. Kondisi air Batanghari di hulu dan hilir ternyata sangat berbeda.

Mengapa menurut KLHK, indeks kualitas air (IKA) Batanghari masih relatif baik dengan tingkat cemaran ringan dan sedang, sementara berbagai penelitian yang sifatnya lokalitas tertentu menunjukkan data yang berbeda?.Pasalnya adalah di metodologi. Penelitian perguruan tinggi dilakukan dengan sampling terbatas dalam lokal tertentu, seperti daerah hulu saja atau tengah saja (kota Jambi) dan data semasa (sesaat). Di lain pihak KLHK menggunakan data sebaran dari hulu hingga hilir dan diakumulasikan secara regresi, maka yang dihasilkan adalah data rata-rata kualitas air sungai. Angka ini tidak bisa dikatakan merepresentasi hilir, tengah dan hulu secara spesifik, namun kumulatif.

Mengapa mengenali jenis cemaran Batanghari penting? Agar upaya memulihkannya yang saat ini sedang didorong dengan kemauan kuat Pemprov Jambi, efektif. Ibarat demam, mengobatinya harus diketahui  apa penyebab demam, apakah penyebabnya infeksi virus, bakteri atau ada kelenjar yang radang?.

 

Fitoremediasi (melawan semua limbah dengan tanaman)

Filosofi alam terkembang menjadi guru, sungguh adalah pandu terbaik manusia dalam segala ruang kehidupannya. Begitupun dalam upaya gotong royong memulihkan Batanghari ini.

Penting untuk di noticebahwa limbah rumah tangga adalah ancaman terbesar yang setiap hari, setiap jam, setiap menit dan detik mengintrusi buangan antroposen ke sungai dengan DAS terbesar di Sumatra itu. Kita lah, orang-orang kebanyakan ini yang paling berkontribusi terhadap penurunan kualitas airnya. Ini menjadi trigger agar kita memperbaiki pola hidup dan bisa lebih mengerem aktivitas yang menyisakan limbah. Di Indonesia umumnya dan Jambi khususnya, rumah tangga tidak dilengkapi dengan instalasi pengolahan limbahnya sendiri. Kita tidak pernah menghitung itu sebagai biaya hidup. Walau di ruang lain, kita bisa begitu garang memaki industri yang tidak memiliki IPAL.

Limbah jenis ini sebenarnya tidak rumit untuk ditangani. Hanya karena jumlahnya yang sangat banyak dan tak berjarak dengan kita (karena kita lah produsennya), ia menjadi less controlled. Di Belanda, pemerintah mewajibkan pengembang perumahan melengkapi setiap unit propertinya dengan IPAL Household.Tapi di kita, pemasangan instalasi daur ulang dipersepsikan mahal dan bukan kebutuhan utama. Hanya menambah beban para pasangan muda yang ingin membeli rumah. Akibatnya limbah rumah tangga dibuang langsung ke tanah dan sungai.

IPAL kolektif bisa diadakan untuk solusinya. Konsep ekoriparian yang menggunakan kolam-kolam purifier dengan tanaman organik, bisa dikembangkan. Konsep ini murah dan mudah. Satu instalasi seluas 6x10 meter saja dapat mengolah limbah dari 400 KK. Ia juga menarik karena bisa menjadi ruang terbuka hijau di tingkat RT atau komunitas. Instalasinya tidak memerlukan tanah yang luas. Restorasi sungai Citarum dan Cilieung juga menggunakan ini di tingkat rumahtangga.

Kolam kolam ekoriparian juga bisa berfungsi sebagai penahan run off air ketika musim penghujan yang kerap menimbulkan banjir. Apalagi jika ia diadakan di kontur pemukiman dengan wilayah cekungan (rendah) seperti di Payo Lebar. Solusi ekologi selalu dibangun dengan prinsip merespon kontur alaminya, bukan membongkar dan membangun infrastruktur baru yang menghancurkan tatanan lamanya.

Ekoriparian bekerja dengan prinsip fitoremediasi. Yaitu upaya mengurangi beban pencemaran melalui akar tanaman dan mikroba. Semua tumbuhan sebenarnya memiliki kapasitas menyerap logam dalam jumlah bervariasi. Semua limbah dari yang ringan (limbah rumahtangga), sedang (limbah perkebunan dan pertanian) hingga berat (limbah industri dan PETI) dapat dikurangi bahkan dinetralisir sepenuhnya oleh tumbuhan tertentu.

Tanaman tifa air, eceng gondok dan teratai (lotus) memiliki kemampuan menyerap limbah merkuri (Hg) dan Pb bahkan hingga 90 persen[5]. Sungguh betapa hebat Tuhan menciptakan tumbuhan sebagai tatanan penyeimbang aktivitas homo sapien. Akarnya mampu menyerap nitrogen, nitrit, magnesium, kalium dan zat lain. Dengan bekerjasama dengan mikroba yang terdapat dalam limbah itu sendiri, mereka menetralisir kandungan berbahayanya.

Ini menjelaskan mengapa di kompleks percandian MuaroJambi, kita banyak mendapati tanaman lotus (teratai) dan paku air di kolam-kolam kunonya. Nenek moyang kita sudah menguasai teknologi pemurnian air ini sejak masa sebelum kolonial mendiktekan kurikulum sekolah kita.

Pola pertanian dan perkebunan harus dirubah secara radikal. Dan ini bisa. Proses transfer pengetahuan yang akan menerbitkan kesadaran menjadi penting. Politik pertanian yang dimulai sejak revolusi hijau Orba harus bisa dijelaskan secara terang pada masyarakat dan bagaimana pola arif leluhur kita musnah karenanya. Ini harus dilakukan secara sabar dan mengakar. Bukan hanya menyentuh hati, tapi juga harus menyentuh kantong.

Rasionalitas ekologi bukan lagi hal yang bernegasi dengan rasionalitas ekonomi. Apalagi arah pembangunan bernegara kini dipimpin oleh jargon PRK (pembangunan rendah karbon). Dengan salah satu piranti aturannya pengenaan NEK (Nilai Ekonomi Karbon). Setiap perusahaan, juga pribadi pada waktunya akan masuk dalam ketentuan pajak karbon dalam setiap aktivitas produksinya. Mengapa kita tidak melakukan langkah afirmasi sebelum ia datang, dengan cara merubah pola agrikultur yang tidak ramah pada tanah, air, udara dan makhluk semesta. Bisa kok.

Memberantas PETI? Jelas harus? Dan sepertinya upaya politis dan hukum adalah jalannya. Namun sambil menunggu ia berbuah manis, mari secara simultan kita atasi kandungan merkuri dan logam berat lainnya dengan cara yang telah disediakan oleh alam itu sendiri, fitoremediasi.

Kunci pentingnya adalah melibatkan masyarakat sebagai subjek. Merekalah yang akan terus menerus menjaga sungainya, airnya, lingkungannya. Karena kebahagiaan mereka akan ditentukan dengan lingkungan yang bersih, indah, alami dan bermanfaat. Pemerintah hadir sebagai katalisator untuk memperkuat rakyat.

Sungguh, pada setiap persoalan yang tercipta, alam telah pula menyediakan solusi sebagai padanannya.Pada alam kita belajar. Pada semesta kita berguru.

[1] Freshwater program, WWF Indonesia Wilayah Sumatra Bagian Tengah

[2] Kadis LH Provinsi Jambi Sri Argunaini juga menyatakan hal yang sama ketika diwawancara awak media di acara lounching gerakan Batanghari bersih, 9/3/2022

[3]http://jfu.fmipa.unand.ac.id/index.php/jfu/article/view/576

[4] Lihat Shally Yanova1, Kory Asi Mariana Siagian, dan Rizki Gusanti, Tingkat Cemaran Logam Berat Pada Air Sungai Batanghari Provinsi Jambi berdasarkan Indeks C/P (Contamination/Pollution). Jurnal Daur Lingkungan, 3(2), Agustus 2020, 62-65 Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Batanghari Jambi.

[5]https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/JIS/article/view/4951/0


Penulis: Ratna Dewi
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments