JAMBI - Ratusan siswa SMKN 3 Jambi menggelar aksi damai ke gedung DPRD Provinsi Jambi, Selasa (29/3). Mereka mendesak agar seluruh siswa, staf dan para guru SMAN 12 pindah dari gedung lama SMKN 3 di Jalan Kapten Bakaruddin.

Sayangnya, dalam aksi yang digelar sekitar pukul 12.30 itu para siswa tidak disambut satu pun anggota DPRD Provinsi Jambi. Namun, mereka tetap berorasi di halaman gedung wakil rakyat itu.

Mereka menyuarakan penolakan untuk pindah dari gedung lama ke Paal 10 dan mendesak agar siswa dan guru SMAN 12 yang pindah dari gedung itu. “Kami minta keadilan!,” seru Ketua OSI SMKN 3 Khairunisah melalui pengeras suara.

Selain orasi, mereka juga menyuarakan tuntutan melalui spanduk dan pamflet yang dibuat dari kertas karton. Salah satu bertuliskan seruan, “SMAN 12 Out”.

Informasi yang didapat Metro Jambi selama ini sebagian siswa dan guru SMKN 3 memang beraktivitas di gedung baru di kawasan Paal 10, Jalan Lingkar Barat. Sedangkan sebagian gedung lama yang terletak tak jauh dari Jamtos dipinjamkan ke SMAN 12.

Kepala Sekolah SMKN 3 Edri Penta yang ditanyai usai aksi mengatakan, SMAN 12 menumpang sejak 2018. “Semula hanya menumpang empat lokal, lalu bertambah menjadi sembilan lokal,” ujarnya.

Dia mengatakan, SMKN 3 ingin bertahan di sana karena mereka memerlukan tempat praktek siswa dan kegiatan lain. “Mereka butuh belajar, mereka butuh keterampilan," ujar Edri Penta di halaman DPRD Provinsi Jambi.

Komplek sekolah di Jalan Kapten Bakaruddin itu memiliki 40 ruang kelas. Karena sembilan ruangan dipakai SMAN 12, sebagian siswa SMKN 3 terpaksa menggunakan ruang eks perpustakaan, ruang guru dan bengkel untuk belajar.

Secara keseluruhan, kata dia, SMKN 3 memiliki 62 rombongan belajar (rombel). Sebanyak 24 rombel ditempatkan di Paal 10, sedangkan 36 rombel di Jalan Kapten Bakarudin.

Aktivitas di Paal 10 memanfaatkan empat gedung dengan 48 ruangan –setiap gedung memiliki 13 ruangan. Kenapa tidak semua kegiatan belajar dan mengajar SMKN 3 dipindah ke Paal 10?

Edri mengatakan bahwa sarana dan prasarana di sana masih kurang. Diperlukan sebanyak 16 ruang kelas lagi. Di sana juga tidak ada ruangan untuk bengkel. “Alat praktek juga tidak ada di Paal 10,” lanjutnya.

Edri mengatakan SMKN 3 sudah lama meminta SMAN 12 meninggal gedung mereka, namun tidak digubris. “Pemerintah sudah terlalu lama membiarkan masalah ini. Dualisme, satu lokasi ada dua sekolah,” tambahnya.

Secara aturan, kata Edri, gedung tersebut milik SMKN 3 yang berdiri sejak 1978. Namun, saat terjadi ledakan siswa melalui PPDB 2017, pemerintah membuka SMAN 12 dan memakai gedung SMKN 3 untuk lokasi belajar. 

Edri menyatakan pernah mendapat informasi bahwa pada 2019 pemerintah mengucurkan dana Rp 2 miliar untuk merenovasi gedung eks Transito agar bisa dipakai oleh siswa dan guru SMAN 12.

“Sudah dibangun 14 ruang kelas di sana. Tetapi apa permasalahannya, SMAN 12 enggan pindah,” katanya.

Masalah ini meruncing setelah pihaknya mendapat surat dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi yang meminta siswa SMKN 3 menghentikan semua aktivitas di gedung lama dan pindah ke gedung baru di Paal 10.

“Saya terpaksa tidak mengikuti intruksi Diknas karena demi kepentingan anak-anak semua. Saya bertahan di situ karena tanggal 10 Maret anak-anak mulai ujian praktek. Sarana dan prasarana ada di situ. Di Paal 10 belum ada,” ujarnya lagi.

Edri mengatakan, siswa mengikuti Ujian Nasional sejak pekan kedua Maret hingga usai Idul Fitri nanti. Di sisi lain, tambah dia, pengajuan penambahan sarana dan prasarana di Paal 10 juga belum diakomodir.


Penulis: ich/chy
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj


TAGS:


comments