JAMBI - Rencana Vera Simanjuntak, kekasih Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, meminta perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) akhirnya batal.  Ada persyaratan yang tidak mampu dipenuhi oleh keluarga. Batalnya rencana itu diungkapkan oleh kuasa hukum Vera, Ramos Hutabarat, Senin (1/8). Ramos mengatakan, Vera batal meminta perlindungan LPSK setelah mempertimbangkan beberapa hal. Diakui Ramos, awalnya memang ada permintaan keluarga agar Vera mendapatkan perlindungan LPSK. Para kuasa hukum lalu menyampaikan sejumlah syarat dan teknis perlindungan di LPSK.  Katanya, ada syarat yang sangat memberatkan pihak keluarga. Salah satunya keharusan membawa Vera ke tempat aman yang pihak keluarga sekali pun tidak bisa menghubunginya bila mana dia menerima ancaman. “Ini yang menjadi keberatan pihak keluarga,” ungkapnya. Sementara itu, dari Jakarta dilaporkan bahwa Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendapatkan bukti tambahan kasus kematian Brigadir Yosua. Bukti tambahan itu adalah hasil tes usap PCR di rumah pribadi Irjen Polisi Ferdy Sambo. “Artinya, sudah ada hasil PCR yang dilakukan di rumah yang beralamat di Jalan Saguling," kata Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, kepada media, Senin (1/8). Beka menyampaikan itu usai Komnas Ham memeriksa seorang ajudan dan asisten rumah tangga Ferdy Sambo. Pemeriksaan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dan baru selesai sekitar pukul 17.15 WIB. Awalnya, Komnas HAM juga akan menggali informasi dari petugas kesehatan yang melakukan tes usap PCR di kediaman pribadi Irjen Pol Ferdy Sambo. Namun, kata Beka, tenaga kesehatan tersebut tidak hadir. Beka mengatakan, temuan bukti tambahan ini cukup signifikan karena melengkapi keterangan yang sudah disampaikan oleh ajudan-ajudan yang lain pada pekan lalu. Saat itu, satu ajudan tidak hadir. Ajudan yang tak hadir itulah yang diperiksa kemarin.  Selain hasil tes usap PCR, Komnas HAM juga memperoleh informasi penting lainnya terkait kerangka waktu kejadian insiden yang menewaskan Brigadir Yosua itu. Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat dilaporkan tewas dalam baku tembak di rumah dinas Irjen Pol Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7). Brigadir Yosua adalah ajudan Ferdy Sambo. Kasus ini baru mengemuka ke publik tiga hari kemudian setelah keluarga Yosua  menemukan sejumlah kejanggalan. Polisi menyebutkan, Brigadir Yosua tembak menembak dengan Bharada E, salah satu pengawal Ferdy Sambo. Pihak keluarga curiga karena di tubuh Yosua tidak hanya ditemukan luka tembak, tetapi juga banyak luka lain seperti sayatan dan jeratan. Hal itu diketahui saat jenazah Brigadir dikirim ke rumah orang tuanya di Sungaibahar, Muarojambi. Laporan pihak keluarga membuat Kapolri membentuk tim khusus dan menggelar autopsi ulang. Autopsi ulang dilaksanakan pada Rabu (27/7) pekan lalu di RSUD Sungai Bahar. Kasus ini juga dikawal Komnas HAM dan Kompolnas. Sementara tiga petinggi polisi di Mabes Polri dicopot terkait kasus ini, termasuk Ferdy Sambo dari jabatan Kadiv Propam Polri. Dari Jakarta juga dilaporkan bahwa Timsus Polri memeriksa petugas Smart Co Lab dan sopir Irjen Pol Ferdy Sambo.  Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Andi Rian Djajadi menyebutkan, yang diperiksa adalah petugas tes PCR terhadap Irjen Pol Ferdy Sambo di hari kejadian. “Pemeriksaan di Bareskrim Polri. Petugas Smart Co Lab yang melakukan PCR dan sopir IJP FS saat hari kejadian," kata Andi. Sebelumnya, berdasarkan keterangan polisi pada insiden baku tembak terjadi Irjen Pol Ferdy Sambo tidak berada di TKP karena melakukan tes PCR. Tes PCR dilaksanakan di rumah pribadi Irjen Pol Ferdy Sambo, berjarak sekitar 500 meter dari TKP. Timsus Polri juga mendalami uji balistik di TKP. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo menyebutkan, pendalaman uji balistik dilakukan untuk mencari tahu sudut tembak, jarak tembak dan sebaran pengenaan tembakan dari dua senjata api yang ditemukan di TKP.

Penulis: Ichsan/antEditor: Joni Rizal

TAGS:

comments