JAMBI - Keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat meminta nama baik polisi asal Sungaibahar, Muarojambi, itu dipulihkan. Permintaan itu disampaikan setelah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan bahwa Yosua dibunuh. Dihubungi Metro Jambi pada Rabu (10/8), tante Yosua, Roslin Simanjuntak, menyatakan berterima kasih kepada semua pihak yang membuat terang kasus kematian keponakannya itu. Dia juga berharap Kapolri mengungkap motif di balik kasus kematian Brigadir Yosua. “Sebab, kami belum tahu apa motif di balik ini semua. Apa motif anak kami dibunuh sesadis ini, disiksa, ditembaki,” ujar Roslin. Kapolri dan tim khusus yang telah dibentuk, tambah dia, harus mengusut tuntas siapa saja pihak yang ikut menutupi-nutupi kasus tersebut. “Kami minta agar ini juga diusut tuntas sampai ke akar-akarnya,” ungkapnya. Dalam konferensi pers pada Selasa (9/8) malam lalu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebutkan bahwa timsus bentukannya sudah menetapkan empat tersangka. Terbaru adalah Irjen Pol Ferdy Sambo, atasan langsung Brigadir Yosua ketika dia terbunuh pada Jumat, 8 Juli 2022 lalu. Tersangka lain adalah Bharada RE, Brigadir RR dan KM. RE adalah inisial untuk Richard Eliezer Pudihang Lumiu dan RR adalah Ricky Rizal. Mereka adalah pengawal dan ajudan Ferdy Sambo. Sedangkan inisial KM diketahui adalah Kuwat (sopir isteri Sambo). Sigit menjelaskan, dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua di rumah dinas Kadiv Propam, Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Ferdy Sambo adalah orang yang memerintahkan Bharada RE menembak Brigadir Yosua. Dari serangkaian pemeriksaan, Listyo Sigit mengatakan bahwa “tidak ditemukan fakta peristiwa tembak-menembak seperti yang dilaporkan (sebelumnya)”.  Timsus menemukan bahwa yang terjadi adalah penembakan terhadap Brigadir Yosua sehingga lulusan Sekolah Polisi Negara (SPN) Jambi itu tewas. “Yang dilakukan oleh RE atas perintah FS (Ferdy Sambo, red),” tambah Kapolri. Yang tidak kalah mangejutkan adalah penjelasan Kapolri soal tindakan lain Ferdy Sambo di hari kejadian. Menurut Sigit, untuk membuat seolah-olah terjadi tembak-menembak, Ferdy Sambo menembakkan senjata milik Brigadir Yosua ke dinding berkali-kali. “Apakah Saudara FS (hanya) menyuruh atau terlibat langsung dalam penembakan, tim sedang melakukan pendalaman terhadap saksi-saksi dan pihak terkait,” tambahnya. Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto menjelaskan bahwa Bharada RE berperan menembak korban; RR turut membantu dan menyaksikan penembakan; KM turut membantu dan menyaksikan penembakan. Sedangkan “FS menyuruh melakukan dan menskenario peristiwa, seolah-olah terjadi tembak-menembak di rumah Dinas Irjen Pol FS,” jelas Komjen Agus. Menurut Roslin Simanjuntak, isteri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi adalah saksi kunci untuk mengungkap motif di balik kasus. Sayangnya, sampai saat ini Putri terkesan tertutup. “Kuncinya satu ini, Ibu Putri karena Ibu Putri ada di TKP. Dari awal kami tegaskan agar Ibu Putri berkata kejadian yang sesungguhnya,” ujar Roslin. Roslin mengatakan, keluarga besar Brigadir Yosua merasa lega dengan penetapan tersangka Ferdy Sambo, namun belum puas. Belum puas karena nama keluarga dan almarhum Brigadir J harus dipulihkan. Terutama terkait tuduhan Brigadir Yosua melecehkan Putri Candrawathi. “Itu kan nama baik keluarga. Apalagi, anak kami almarhum yang sudah meninggal dibunuh, tapi dibuat dugaan, difitnah melakukan pelecehan,” ujarnya. Dibubungi terpisah, ayah Brigadir Yosua, Samuel Hutabarat, menjelaskan bahwa pada waktu pengumuman Ferdy Sambo tersangka, isterinya, Rosti Simanjuntak, sangat terkejut.  Apalagi setelah Kapolri menjelaskan peran Sambo dan para tersangka lainnya. Samuel mengatakan, Rosti memiliki firasat kematian anaknya karena dibunuh.  Namun, karena awalnya dia mendapat informasi bahwa Yoshua tewas setelah tembak-menembak dengan rekannya sesama polisi, Rosti tak bisa banyak bicara.

“Saya sebagai ayah Yoshua tidak menyangka jika pelaku utamanya adalah Ferdy Sambo dan terkejut mendengarkan pengumuman dari Kapolri," kata Samuel Hutabarat. Metro Jambi mendapat informasi bahwa sepatu, baju milik Brigadir Yosua telah diserahkan kepada keluarga. Sedangkan tiga handphone-nya akan dijadikan alat bukti di persidangan. Samuel mengatakan bahwa selain handphone, dompet beserta isinya dan laptop milik Brigadir Yosua juga belum dikembalikan. “Ada kabar dari polisi, HP untuk barang bukti nanti di persidangan,” ujarnya.

Penulis: Indra/Joni RizalEditor: Joni Rizal

TAGS:

comments